Rabu, 19 Januari 2011

Tokoh Setelah Kemerdekaan


NURCHOLIS MADJID

Riwayat Hidup Nurcholis Madjid

Nurcholis Madjid lahir pada tanggal 17 Maret 1939 bertepatan dengan 26 Muharram 1358 H. di Jombang, Jawa Timur, dari keluarga kalangan pesantren yang taat menjalankan agama. Pendidikannya dimulai dari sekolah rakyat di Mojoanyar pada pagi hari, sedangkan sore hari ia sekolah di Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan Ibtidaiyah, ia melanjutkan belajar di pesantren Darul Ulum di Rejoso, Jombang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Pesantren Darussalam di Gontor Ponorogo.

Setamat dari Gontor ia melanjutkan studi pada institut agama Islam kini Universitas Negri Islam (UIN) Syaraf Hidayatullah Jakarta, pada Fakultas Adab, Jurusan Sastra Arab dan tamat pada tahun 1968. pendidikan selanjutnya ia lakukan di Universitas Cicago, Illinois, Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Islamic Though (Pemikiran Islam) pada tahun 1984.

Semasa jadi mahasiswa, Nurcholis Madjid banyak melakukan kegiatan di berbagai organisasi. Ia pernah menjadi ketua umum Himpunan mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat pada tahun 60-an. Kemudian menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI selama pereode 1966-1969 dan 1969-1971. selain itu, ia juga pernah menjadi Presiden pertama Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) tahun 1967-1969, sebagai Wakil Sekretaris Jendral Internasional Islamic Federation of Student Organization (IIFSO) pada tahun 1969-1971.

Setamat dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Nurcholis Madjid bekerja sebagai dosen di almamaternya, mulai tahun 1972 sampai 1976. setelah berhasil meraih gelar Doktor pada tahun 1985, ia diotugaskan memberikan kuliah tentang filsafat di Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, sejak tahun 1978 ia bekerja sebagai peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bersama tugas-tugasnya itu, ia pernah berkesempatan menjadi dosen tamu pada Universitas McGill, Montreal, Canada. Pada tahun 1990 di dampingi oleh istrinya yang mengikuti program Eisenhower Fellowship.

Pemikiran Nurcholis Madjid

Nurcholis Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur merupakan salah seorang pemikir pembaruan Islam di Indonesia. Gagasan utama yang diusung oleh Cak Nur adalah mengenai Modernisasi, Sekularisasi dan sikap Pluralis dalam memandang berbagai agama atau pemahaman. Secara gamblang sekali Cak Nur mengungkapkan bahwa Modernisasi adalah Rasionalisasi bukan Westernisasi. Pendapat Cak Nur tentang Modernisasi tertuang dalam kesimpulan dari tulisannya yang berjudul “Modernisasi ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi”:

Kita sepenuhnya berpendapat bahwa modernisasi ialah rasionalisasi yang ditopang oleh dimensi-dimensi moral dengan berpijak pada prinsip iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, kita juga sepenuhnya menolak pengertian yang mengatakan bahwa modernisasi ialah westernisasi, sebab kita menolak westernisme. Dan westernisme yang kita maksudkan adalah total way of life, dimana faktor paling menonjol ialah sekularisme dnegan segala percabangannya, sebagai mana telah diterangkan di atas. [1]

Dari pembahasan tersebut, Cak Nur berpendapat bahwa modernisasi berarti rasionalisasi untuk memperoleh daya guna dalam berpikir dan bekerja maksimal guna kebahagiaan manusia, adalah perintah Tuhan yang mendasar. Menurut Cak Nur, modernisasi berarti berpikir dan bekerja menurut fitrah atau sunatullah yang haq. Modernitas menurut Cak Nur berada dalam suatu proses, yaitu proses penemuan Kebenaran-Kebenaran Yang Mutlak yaitu Allah.

Akan tetapi Cak Nur bukan seseorang yang mendukung paham rasionalisme,

Rasionalisme adalah suatu paham yang mengakui kemutlakan rasio, sebagaimana yang dianut oleh kaum komunis. Maka, seorang rasinalis adalah yang menggunakan akal pikirannya dengan sebaik-baiknya, ditambah dengan keyakinan bahwa akal pikirannya itu sanggup menemukan kebenaran, sampai merupakan kebenaran terakhir sekalipun. Sedangkan islam hanya membenarkan rasionalitas, yaitu dibenarkannya menggunakan akal pikiran oleh manusia dalam menemukan kebenaran-kebenaran. Akan tetapi, kebenaran-kebenaran yang ditemukannya itu adalah kebenaran insan, dan karena itu terkena sifat relatifnya manusia. Maka menurut Islam, sekalipun rasio dapat menemukan kebenaran-kebenaran, namun kebenaran-kebenaran yang relatif, sedangkan yang mutlak hanya dapat diketahui oleh manusia melalui sesuatu yang lain yang lebih tinggi dari rasio, yaitu wahyu (revelation) yang melahirkan agama-agama Tuhan melalui nabi-nabi. [2]

Dukungan Cak Nur terhadap rasionalitas tidak berarti dukungannya terhadap Rasionalisme. Sikap rasionalis dipandang perlu dalam menghadapi modernisasi mengingat masyarakat Indonesia yang salah dalam menerjemahkan warisan leluhurnya. Masyarakat muslim Indonesia lebih banyak disibukkan membenarkan atau menyalahkan pemahaman orang lain tanpa mempelajari terlebih dahulu pemahaman itu. Mereka kebanyakan terpenjara dalam pemikiran mereka yang telah mereka anggap paling benar dan dapat mengantarkan mereka ke surga Tuhan.

Cak Nur menuai protes dan kritikan keras dari berbagai kalangan berkaitan dengan gagasan sekularisasi yang diusungnya. Menurut Cak Nur sekularisasi yang dimaksudkan adalah pemisahan yang duniawi dan ukhrawi sehingga kita tidak terjebak pada pensakralan urusan duniawi dan melupakan urusan ukhrawi yang pada dasarnya merupakan tujuan dari ajaran Islam. dalam hal ini, yang setiap bentuk ‘perkembangan yang membebaskan’. Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya islamis itu, mana yang transcendental mana yang temporal. [3]

Yang seharusnya diperlukan oleh umat Islam adalah kesediaan untuk senantiasa menguji kembali kebenaran setiap nilai di hadapan kenyataan-kenyataan material, moral maupun historis, agar menjadi sifat kaum muslimin. Lebih jauh lagi, sekularisasi Cak Nur dimaksudkan sebagai pemantapan terhadap fungsi manusia sebagai Khalifatullah fi al-ardh. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia memiliki kebebasan penuh untuk menetapkan pilihan dalam rangka perbaikan kehidupan di atas bumi itu sendiri.

Nurcholis Madjid memiliki keterbukaan sikap yang ditunjukkan peradaban Islam yang di puncak kejayaannya sekitar sepuluh abad yang lalu. Keterbukaan Islam yang mampu menyerap yang terbaik, dari manapun datangnya. Proses penyerapan itu, menjadikan agama Islam menjadikan agama yang sarat dengan nilai universal yang dianut manusia secara tidak berkeputusan.

Karena itu, Nurcholis Madjid selalu menekankan pentingnya mencari persamaan diantara semua agama. Sikap memisahkan diri dari universalitas peradaban manusia hanya akan menyempitkan Islam sendiri, sebagai cara hidup bagian cukup besar dari ummat manusia. Inklusivitas Islam haruslah dipertahankan kalau vitalitas agama terakhir itu ingin dapat dilestarikan. Sebab, keharusan mengembangkan inklusivitas Islam itu, dalam pandangan Nurcholis Madjid hanya dapat terwujud dalam lembaga politik Islam. Terkenal sekali semboyan Nurcholis: “Islam Yes Partai Politik Islam No”.

Berkaitan dengan sikap pluralisme yang dianutnya, Cak Nur berangkat dari pemikiran tentang Prinsip Iman dan Prinsip Amal Saleh. Bagi Cak Nur, Islam merupakan sebuah agama yang berarti berkaitan erat dengan keyakinan yang ada dalam diri manusia. Cak Nur mengungkapkan bahwa Iman sebagai keyakinan yang amat besar dari seseorang yang menyatakan beriman kepada yang diyakininya. Oleh karena itu, iman merupakan sesuatu yang sangat individualis, sehingga keimanan ini seharusnya tercermin dalam sikapnya menghadapi berbagai perbedaan yang ada. Prinsip kedua adalah prinsip amal saleh; dalam hal ini berkaitan erat dengan taqwa yang diartikan oleh Cak Nur sebagai rasa ketuhanan. Jika seseorang memiliki sikap taqwa yang menguasai batin serta sikap-sikapnya, maka dalam suatu kesucian dan kemurnian ruhani, ia akan menentukan bentuk dan nilai dorongan batin atau motivasi, bagi seluruh kegiatan hidup atau budayanya. Amal shaleh merupakan tindakan yang didasari oleh keberadaan taqwa ini. amal shaleh diartikan Cak Nur sebagai perbuatan yang serasi dan harmonis dalam hubungannya dengan lingkungan hidup di sekitarnya, secara menyeluruh, khususnya dalam hubungan dengan sesama manusia itu sendiri.

Sikap pluralis dalam memandang keragaman manusia tadi mengandung satu cita-cita universal dalam kehidupan manusia, yaitu cita-cita untuk mewujudkan sebuah keadilan sosial. Kehidupan yang serasi atau saleh antarmanusia itu ialah kehidupan yang diliputi kedamaian, kesejahteraan, keselamatan dan seterusnya, singkatnya adalah kehidupan yang diliputi oleh salam, yang juga merupakan akar kata Islam.

K.H. AHMAD DAHLAN

Riwayat Hidup

KH. Ahmad Dahlan dilahirkan di Kauman Yogyakarta, pada tahun 1868. Nama kecil beliau adalah Muhammad Darwis. Keluarga beliau dikenal sebagai keluarga ulama, ayahnya bernama KH Abu Bakar. Seorang khatib Masjid besar Keraton Yogyakarta; sementara ibunya bernama Siti Aminah Putri dari KH Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Keraton Yogyakarta.

Sejak kecil beliau dididik oleh K.H. Abu Bakar; dimulai dengan belajar membaca dan menulis, mengaji Al-Qur an dan kitab-kitab agama. Kemudian, beliau juga belajar dengan K.H. Muhammad Saleh (Fiqh), K.H. Muhsin (Nahwu), KH. R. Dahlan (falak), K.H. Mahfuz dan Syekh Khayyat Sattokh (hadis), Syekh Amin dan Sayyid Bakri (qiraat al-Qur an) serta beberapa guru lainnya.

Pada tahun 1890 melakukan ibadah haji yang pertama kali ke tanah suci dan menetap di sana selama satu tahun. Karena kerinduannya, pada tahun 1903 ia berangkat lagi ke Mekkah untuk menetap di sana selama dua tahun. Saat itulah ia mulai berkenalan dengan pemikir kontemporer Islam seperti Ibn Taimiyyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Qoyyim al-Jauziyah dan lain sebagainya. Dipenaruhi oleh wawasan barunya tentang Islam, pada tanggal 18 November 1912, Dahlan mendirikan Muhammadiyyah, juga organisasi wanita yang kemudian diberi nama ‘Aisyiyyah pada tahun 1917.

Kemudian, pada tahun-tahun berikut, Muhammadiyah mengembangkan sayap operasi, bahkan pada tahun 1921 telah meliputi seluruh Indonesia, Cabang utama dan pertama yang berdiri di luar pulau Jawa adalah Minangkabau sekitar tahun 1923, Bengkulu, Banjarmasin dan Amuntai sekitar tahun 1927 dan Aceh bersamaan dengan Makasar sekitar tahun 1929.

Dalam melaksanakan roda organisasi K.H. Ahmad Dahlan tidak bekerja sendirian, ia dibantu oleh kawan-kawannya dari Kauman, seperti H. Sijak, H. Fakhruddin, H. Tamim, H. Syarkawi, dan H. Abdul Gani. Sedangkan anggota Budi Utomo yang keras mendukung segera mendirikan sekolah agama yang bersifat moderen adalah Mas Rasyidi dan R. Sosrosugondo. Kemudian, setelah organisasi Muhammadiyah didirikan dan melaksanakan amal usahanya di bidang pendidikan, dan sosial sampai tahun meninggalnya K.H. Ahmad Dahlan yaitu tanggal 23 Februari 1923.

Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Menurut Ramayulis dan Samsul Nizar, hampir seluruh pemikiran Dahlan berangkat dari keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam kejumudan(stagnasi), kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini sangat merugikan bangsa Indonesia. Latar belakang situasi dan kondisi tersebut telah mengilhami munculnya ide pembaharuan Dahlan. Ide ini sesungguhnya telah muncul sejak kunjungannya pertama ke Mekkah. Kemudian ide itu lebih dimantapkan setelah kunjungannya yang kedua. Hal ini berarti, bahwa kedua kunjungannya merupakan proses awal terjadinya kontak intelektualnya baik secara langsung maupun tak langsung dengan ide-ide pembaharuan yang terjadi di Timur Tengah pada awal abad XX.

Secara umum, ide-ide pembaharuan Ahmad Dahlan menurut Ramayulis dan Samsul Nizar dapat diklasifikasikan kepada dua dimensi, yaitu; Pertama, berupaya memurnikan (purifikasi) ajaran Islam dari khurafat, tahayul, dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam. Kedua, mengajak umat Islam untuk keluar dari jaring pemikiran tradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.

Ide-ide pembaharuan tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui pendidikan. Menurut Ahmad Dahlan pendidikan juga merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya didik agar cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memetakan dinamika kehidupan pada masa depan. Adapun kunci untuk meningkatkan kemajukan umat Islam adalah kembali kepada al-Qur`an dan hadis, mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif, dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Upaya ini secara strategis dapat dilakukan melalui pendidikan.

Tetapi pendidikan yang dimaksud oleh K.H. Ahmad Dahlan adalah pendidikan yang berorientasi pada pendidikan moderen, yaitu dengan menggunakan sistem klasikal. Apa yang dilakukannya merupakan sesuatu yang masih cukup langka dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam pada waktu itu. Di sini, ia menggabungkan sistem pendidikan Belanda dengan sistem pendidikan tradisonal secara integral.

Menurut Abuddin Nata, untuk mewujudkan cita-citanya itu, pada tahun 1911 Ahmad Dahlan membuat proyek unggulan yaitu mendirikan sebuah madrasah yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan kaum muslimin. Di sekolah inilah pendidikan agama diberikan oleh Ahmad Dahlan disamping pengetahuan umum diajarkan oleh salah seorang anggota Budi Utomo yang juga menjadi guru di sekolah pemerintah. Kemudian, setelah Muhammadiyah berdiri tahun 1912 madrasah tersebut resmi menjadi amal usaha Muhammadiyah.

Dari paparan di atas dapat dipahami, bahwa K.H. Ahmad Dahlan dalam menyusun ide-ide pembaharuannya bertolak dari kondisi sosial umat Islam pada waktu itu atau dalam ungkapan lain disebut berdasarkan kepada kajian lapangan. Kemudian, ditambah dengan rihlah ilmiahnya ke Timur Tengah Jadi, pada awal abad ke-20 Ahmad Dahlan telah berfikir secara sistematis, terencana dan manajerial sesuai dengan konsep pengembangan pendidikan moderen. Selanjutnya, untuk menyelamatkan umat dari penjajahan fisik kolonial Belanda dan penajajahan syirik, takhyul bid’ah dan khurafat dan kemiskinan dan kebodohan adalah melalui sarana pendidikan.

Islam menekankan kepada umatnya untuk mendayagunakan semua kemampuan yang ada pada dirinya dalam rangka memahami fenomena alam semesata, baik alam makro maupun mikro. Meskipun dalam banyak tempat al-Qur`an senantiasa menekankan pentingnya menggunakan akal, akan tetapi al-Qur`an juga juga mengakui akan keterbatasan kemampuan akal. Ada fenomena yang tak dapat dijangkau oleh indera dan akal manusia (Q.S 13:2; 31:10; 63:3). Hala in disebabkan, karena wujud yang ada di alam ini memiliki dua dimensi, yaitu pisika dan metapisika. Manusia merupakan integrasi dari kedua dimensi tersebut, yaitu dimensi ruh dan jasad.

Batasan di atas memberikan arti, bahwa dalam epistemologi pendidikan Islam, ilmu pengetahuan dapat diperoleh apabila peserta didik (manusia) mendayagunakan berbagai media, baik yang diperoleh melalui persepsi inderawi, akal, kalbu, wahyu maupun ilham. Oleh karena itu, aktivitas pendidikan dalam Islam hendaknya memberikan kemungkinan yang sebesar-besarnya bagi pengembangan ke semua dimensi tersebut. Menurut Dahlan, pengemabangan tersebut merupakan proses integrasi ruh dan jasad. Konsep ini diketengahkannya dengan menggariskan perlunya pengkajian ilmu pengtahuan secara langsung, sesuai prinsip-prinsip al-Qur`an dan sunnah, bukan semata-mata dari kitab tertentu.

Dari sumber-sumber di atas, dapat dipahami bahwa landasan pendidikan Islam menurut Ahmad Dahlan adalah Al-Qur an dan hadis, maka dalam menetapkan tujuan pendidikan Islam juga sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Al-Qur an yaitu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi, dalam ungkapan lain disebut dengan rehumanisasi yaitu mengembalikan kedudukan manusia kepada kedudukan yang sebenarnya yaitu sebagai hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi. Untuk tercapainya tujuan pendidikan Islam tersebut, manusia harus mengembangkan potenmsi dirinya melalui pendidikan. Potensi diri itu sebagaimana yang dianugerahkan oleh Allah antara lain; fitrah beragama, potensi akal, roh, qalbu dan nafs.

Untuk tercapainya tujuan pendidikan Islam, maka materi pendidikan menurut Dahlan, adalah pengajaran al-Qur`an dan Hadis, membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi dan menggambar. Materi al-Qur`an dan Hadis meliputi; ibadah, persamaan derajat, fungsi perbuatan manusia dalam menentukan nasibnya, musyawarah, pembuktian kebenaran al-Qur`an dan Hadis menurut akal, kerjasama antara agama-kebudayaan-kemajuan peradaban, hukum kausalitas perubahan, nafsu dan kehendak, demokratisasi dan liberalisasi, kemerdekaan berpikir, dinamika kehidupan dan peranan manusia di dalamnya, dan akhlak (budi pekerti).

Di samping itu, menurut Abuddin Nata, bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kemajuan materiil. Oleh karena itu, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat di mana siswa itu hidup. Dengan pendapatnya itu, sesungguhnya Ahmad Dahlan mengkritik kaum tradisionalis yang menjalankan model pendidikan yang diwarisi secara turun temurun tanpa melihat relevansinya dengan perkembangan zaman.

MUHAMMAD NATSIR

Riwayat Hidup

M. Natsir lahir di Jembatan Berukir. Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada hari Jumat, 17 Jumadil Akhir 1326 H bertepatan dengan 17 Juli 1908 M. Ibunya bernama Khadijah. Ayahnya bernama Mohammad Idris Sutan Saripado. Di desa kelahirannya itu, Natsir kecil melewati masa-masa sosialisasi keagamaan dan intelektualnya.

Riwayat pendidikan M. Natsir dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) di Maninjau Sumatera Barat hingga kelas dua. Setelah itu pindah ke Holland Inlandse School (HIS) Adabiyah Padang Panjang. Natsir melewati masa kehidupannya dengan penuh perjuangan berat. Sejak kecil ia memasak, mencari kayu bakar, menimba air, mencuci pakaian, menyapu halamanb, dan lain-lain. Di usia sangat muda, Natsir berpisah dengan orang tuanya dan menempuh hidup sebagai orang dewasa, Mulailah ia tidur di surau bersama-sama kawan-kawannya sesama laki-laki. Hanya pada waktu siang dan saat tertentu saja, Natsir berada di rumah.

Setelah lulus dari HIS, Natsir diterima beasiswa di MULO (Meer Uitgebreid Lager Orderwijs). Di MULO tersebut ia mulai aktif berorganisasi dengan masuk dalam Jong Sumatranen Bond yang diketuai Sanusi Pane. Selanjutnya bergabung dalam Jong Islamieten Bond. Menurut Natsir, organisasi merupakan pelengkap selain yang didapatkannya di sekolah dan memiliki andil yang cukup besar dalam kehidupan bangsa. Dari kegiatan berbagai organisasi inilah mulai tumbuh bibit sebagai pemimpin bangsa pada Muhammad Natsir.

Selanjutnya, tahun-tahun penting yang dijalani oleh M. Natsir yang membuatnya terkenal karena sepak terjang pemikiran dan tindakannya.

1887-1958: berinteraksi dengan A. Hasan, seorang pemikir radikal dan pendiri Persatuan Islam (persis) yang mempengaruhi alam pikirannya

1927: Aktif dalam bidang pendidikan secara meluas melalui pelibatan langsung dalam kegiatan studi yang dilaksanakan oleh Persis di Bandung di bawah pimpinan A. Hasan

1938: Mulai melibatkan diri dan aktif di bidang politik sebagai anggota Persatuan Islam Indonesia (PII) cabang Bandung

1940-1942: Natsir menjabat Ketua PII

1942-1945: Merangkap jabatan sebagai Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung dan sebagai Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta yang merupakan Perguruan TInggi Islam pertama pasca kemerdekaan.

1945-1946: Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI), Menteri Penerangan RI pada Kabinet Syahrier 1 dan 2 serta kabinat Hatta ke-1

1949-1958: sebagai Ketua Masyumi hingga partai ini dibubarkan

1950-1951: Perdana Menteri RI

1955: Pemilu 1 Natsir terpilih sebagai anggota DPR

1956-1957: Natsir diangkat sebagai anggota Konstituante RI

Hasrat, cita-cita dan keinginan yang kuat dari M. Natsir untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara dan pemahamnnya t\yang berbeda tentang Islam dengan Soekarno menyebabkan timbulnya konflik di antara keduanya ingá ia termasuk dalam

oposisi pemerintah dan bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra. Keterlibatannya ini mengakhiri karier politiknya di zaman orde lama. Di masa Orde Baru, Natsir tetap tersingkir dari pemerintahan bukan karenakeraguan orang terhadap kredibilitas dan kemampuannya sebagai seorang birokrat dan negarawan, melainkan karena perbedaan ideology. Pemerintah orba, tetap tidak mengabulkan rehabilitasi dam hidupnya kembali Masyumi yang dibubarkan oleh Soekarno.

Dalam keadaan yang demikian, M. Natsir meneruskan perjuangannya dengan menggunakan media dakwah melalui Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikannya bersama mantan aktivis masyumi lainnya.

Kepiawaian, kredibilitas, dan kemampuan Natsir dalam bidang kenegaraan, keislaman, dan perjuangan tidak hanya diakui oleh kalangan nasional, bahkan internasional. Kiprah M. Natsir secara internasional sebagai berikut.

1956: memimpin Sidang Muktamar Alam Islamy di Damaskus, Wakil Presiden Kongres Islam Se-Dunia yang berpusat di Pakistan dan Muktamar Alam Al Islami yang berpusat di Arab Saudi

1957: menerima penghargaan internasional berupa bintang Nicham Istikhar (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bay, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara

1980: Februari 1980 memperoleh penghargaan internasional Jaizatul malik Faisal al Alamiyah dari Lembaga Hadiah Internasional Malik Faisal Arab Saudi

Dalam dunia akademik, Natsir memperoleh doctor honoris causa dari Universitas Islam Libanon tahun 1967 di bidang sastra. Gelar yang sama diperoleh juga tahun 1991 dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Saint Teknologi Malaysia dalam bidang pemikiran Islam.

Natsir juga termasuk tokoh intelektual muslim yang produktif. Menurut Yusuf Abdullah Puar, Natsir, telah menulis lebih dari 52 judul buku yang ditulis sejak tahun 1930. Diantaranya :

1. Islam sebagai Ideologi ( Jakarta : Pustaka Aida, 1951)

2. Agama dan Negara, Falsafah Perjuangan Islam ( Medan, 1951)

3. Kapita Selekta 1 (Jakarta : Bulan Bintang, 1954)

4. Islam sebagai Dasar Negara (Bandung, 1954)

5. Some Observation, Concerning the Rule of Islam in National and International Affair (Ithaca: Departemen of Eastern Studies, Cornel University, 1954)

6. Fiqh Dawah ( Solo: CV Ramadhan, 1965)

Dari beberapa buku tersebut, nampak jelas bahwa Natsir memiliki perhatian terhadap perlunya pelaksanaan ajaran Islam dalam lehidupan berbangsa dan bernegara, juga perlunya peningkatan dan pengembangan pendidikan umat. Bagaimana pokok-pokok pemikiran Natsir dalam bidang pendidikan secara lebih mendalam?

Natsir wafat pada 6 Februari 1993 bertepatan dengan 14 Syaban 1413 H di RSCM dalam usia 85 tahun. PM Jepang saat itu, mengatakan bahwa : Berita wafatnya Pak Mohammad Natsir terasa lebih dahsyat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima.

Pokok-Pokok Pemikiran Pendidikan M. Natsir

Ketika Belanda hendak menjadikan Indonesia negera serikat, Muhammad Natsir menentangnya dan mengajukan pembentukan negara Kesatuan Republik Indonesia. Usulan ini disetujui 90% anggota Masyumi. Tahun 1950, ia diminta membentuk kabinet sekaligus menjadi perdana Menterinya. Tapi belum genap setahun ia dipecat karena bersebrangan dengan presiden Soekarno. Ia tetap memimpin Masyumi dan menjadi angota parlemen hingga tahun 1957. Pidatonya yang berjudul “Pilihlah salah satu dari dua jalan, Islam atau Atheis.” yang disampaikan di parlemen Indonesia dan dipublikasikan majalah “Al Muslimin”, punya pengaruh besar pada anggota parlemen dan masyaakat muslim Indonesia.

Dalam pidatonya di depan Sidang Majlis Konstituante, 13 November 1957, M. Natsir berkata, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka… Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?” Natsir menjawabnya sendiri, “Islam-lah sumber segala kehidupan dan keteraturan di dunia ini.”

Apa yang ditegaskan Natsir dahulu, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sama sekali tidak diperhatikan oleh mereka yang mengklaim sebagai “tokoh-tokoh Islam”, baik yang duduk di parlemen, di partai politik, maupun di kabinet.

Malah sebagian tokoh-tokoh itu malah mulai teracuni oleh pemikiran-pemikiran sekuler dengan menempatkan pluralitas—dengan konsekuensi juga paham pluralismenya—berada di atas dan menempatkan perintah Allah SWT di bawahnya.

Bahkan untuk membohongi suara hati nuraninya sendiri, untuk menipu fitrah kemanusiaannya sendiri, ada yang memakai dalil jika Islam adalah “Rahmatan lil’alamin”. Maka tanpa malu sedikit pun mereka mulai memberikan loyalitasnya kepada kaum kufar, seolah mereka tidak pernah mendapat materi pengajian Wala wal Barra.

Padahal tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW memberikan loyalitasnya kepada kaum kuffar. Keluarga merupakan bentuk paling kecil dari pemerintahan, bukankah Islam mengatakan bahwa pernikahan otomatis batal jika seorang perempuan Muslim ternyata menikah dengan lelaki kafir?. Demikian juga dalam kehidupan bernegara.

Saat menerjuni bidang politik, Muhammad Natsir adalah sorang politikus piawai. Saat menerjuni medan perang, ia menjadi panglima yang gagah berani, dan saat berdebat dengan musuh, ia tampil sebagai pakar ilmu dan dakwah. Muhammad Natsir menentang serangan membabi buta yang dilancarkan para misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan para kaki tangan Barat maupun Timur, dengan menerbitkan majalah Pembela Islam. Ia juga menyerukan Islam sebagai titik tolak kemerdekaan dan kedaulatan, pada saat Soekarno dan antek-anteknya menyerukan nasionalisme Indonesia sebagai titik tolak kemerdekaan. Saat itu Soekarno bersekutu dengan Komunis yang terhimpun dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk melawan Muhammad Natsir dan Partai Masyumi. Pertarungan ini berlangsung hingga tahun 1961, Soekarno membubarkan Partai Masyumi dan menahan pemimpinnya, terutama Muhmmad Natsir.Namun perlawan kaum muslimin Indonesia tidak padam, terus berlanjut hingga terjadi revolusi militer yang berhasil menggulingkan Soekarno pada tahun 1965.

Manhaj Dakwah Muhammad Natsir

Keluar dari penjara, Muhammad Natsir dan rekan-rekannya mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia yang memusatkan aktivitasnya untuk membina masyarakat, mengerahkan para pemuda, dan menyiapkan dai. Kemudian cabang-cabang DDI terbentuk di seluruh Indonesia, dan generasi muda dapat mengenyam fikrah Islam yang benar, memberi pengarahan kepada masyarakat, mendirikan pusat-pusat kegiatan Islam (Islamic Center) dan masjid, menyebarkan buku-buku Islam, membentuk ikatan-ikatan pelajar Islam, serta mendirikan beberapa asosiasi profesional: para insinyur, petani, pekerja dan lain-lain. Ia juga menjalin hubungan dengan gerakan-geraka Islam Internasional, untuk saling tukar pengalaman dan saling mengokohkan persatuan. tahun 1967, Muhammad Natsir dipilih menjadi Wakil Ketua Muktmaar Islam Internasiomal di Pakistan.

KESIMPULAN

Terlepas dari pemikiran Nurcholis Madjid yang menuai kontroversi di berbagai kalangan umat muslim, Cak Nur telah memberikan kontribusi yang besar bagi warna baru pemahaman Islam di Indonesia. Tak hanya itu, hingga ajal menjemputnya, masih banyak orang yang mengakui bahwa pemikiran beliau layak dipertahankan dan diikuti. Warna yang telah ditorehkan Cak Nur paling tidak membuka cakrawala generasi berikutnya untuk berpemikiran, setidaknya seperti beliau.

KH. A. Dahlan dengan niat tulusnya memurnikan ajaran Islam dari segala bentuk takhayul, bid’ah dan khurafat, juga pemikiran Islam modern yang diusungnya telah berhasil mendirikan sebuah organisasi massa yang besar hingga hari ini. terlebih kontribusi yang telah beliau berikan dalam bidang pendidikan, turut membantu masyarakat Indonesia dalam memperoleh pendidikan di bangku sekolah disamping pendidikan yang telah disediakan pemerintah, terutama dalam bidang pendidikan Islam yang tidak ditunjang dengan cukup oleh pemerintah.

Keberadaan Islam di Indonesia tak lepas dari kontribusi pemikiran M. Natsir. Hal ini terlihat dari teguhnya pemahaman Natsir tentang Keislaman dan penolakan yang keras dan tegas terhadap sekularisme.

DAFTAR PUSTAKA

Madjid, Nurcholis. 2008. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan

Nata, Abuddin. 2003. Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : Grafindo Persada

Ramayulis dan Samsul Nizar. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam: Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia. Jakarta: Quantum Teaching

http://badrislam.blogspot.com/2009/05/muhammad-natsir-pilih-islam-atau-atheis.html

http://lppbi-fiba.blogspot.com/2009/03/filosofi-dasar-pemikiran-kh-ahmad.html



[1] Nurcholis Madjid. 2008, hal: XXiV

[2] Nurcholis Madjid. 2008, hal: XXXiX

[3] Ibid, hal: XXVi-XXVii

Selasa, 18 Januari 2011

Monotheysme


PENDAHULUAN

Monotheysme adalah percaya dengan satu tuhan atau tuhan yang tunggal dan tuhan yang esa, dan tidak ada lagi pencipta,penguasa,menghidupkan dan mematikan kecuali tuhan yang esa itu. Perkembangan pemikiran manusia mengenai ketuhanan selalu mengalami perkembangan, dan disetiap perkembangan itu selalu mempunyai kelebihan dan kekurangan dan semakin majunya zaman dan semakin majunya pemikiran manusia mengenai ketuhanan maka konsep pemahaman mengenai tuhan akan terus berubah karena manusia hanyalah makhluk yang terbatas dan tuhan adalah sesuatu zat yang tidak terbatas maka dari itu sulit bagi sesuatu yang terbatas memikirkan sesuatu yang tidak terbatas, maka dari itu selalu ada perubahan mengenai konsep pemahaman mengenai ketuhanan.

Makalah ini akan membahas habis mengenai konsep ketuhanan di agama Islam,Kristen dan juga Hindu. Apakah ketiga agama ini menganut paham ketuhanan monotheysme ? dan adakah perbedaan dan persamaan pandangan monotheysme dari ketiga agama tersebut itu ? akan kita temukan jawabannya nanti di dalam makalah ini.

ISI

Konsep ketuhanan setiap agama mempunyai ciri masing-masing mengenai ketuhanan dan memiliki banyak persamaan dalam memandang konsep ketuhanan. Di setiap zaman selalu terjadi perubahan mengenai pandangan konsep ketuhanan karena semakin berkembangnya zaman dan semakin berkembangnya rasionalitas manusia dalam memikirkan zat tuhan. Tuhan adalah sesuatu yang tidak terbatas dan manusia merupakan makhluk ciptaan tuhan yang memiliki batasan, jadi sulit untuk memikirkan sesuatu yang tidak terbatas dengan daya akal manusia yang terbatas, maka dari tu pandangan mengenai konsep ketuhanan selalu berubah-ubah. Konsep ketuhanan mengalami perkembangan yang beragam yaitu dari animisme, polytheysme, monotheysme dan pantheysme maka dari itu pemahaman tentang ketuhanan selalu mengalami perkembangan yang signifikan.

pemahaman atau konsep tentang Tuhan itu merupakan evolusi. Artinya pemahaman manusia tentang Tuhan adalah suatu proses yang berkembang. Menurut Mukti Ali siklus perkembangan konsep ketuhanan itu mulai dari politheisme lalu monotheisme kemudian pantheisme, dan ada kemungkinan dari pantheisme kembali lagi ke politheisme demikian seterusnya. (Prof. Dr. Mukti Ali, guru besar ilmu perbandingan agama pada Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga)

jadi, semakin majunya zaman juga semakin berkembangnya pemikiran manusia mengenai ketuhanan. Konsep ketuhanan dalam setiap agama beraneka ragam dan memiliki ciri-ciri masing-masing maka dari itu disini kita akan membahas ciri-ciri dari konsep monotheysme agama Islam,Kristen dan Hindu. Setiap kitab suci yang dimiliki oleh agama akan memiliki ajaran dan pandangan sendiri mengenai ketuhanan tersebut maka dari itu setiap agama memiliki ajaran dan konsep ketuhanan sendiri.

Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita manusia memikirkan substansi tuhan yang tidak terbatas dengan keterbatasan kita. Di setiap kitab suci agama selalu tuhan berfirman sebagai petunjuk bagi umat manusia, tetapi yang perlu kita perhatikan pada bagian apakah dari manusia tujuan firman dari tuhan ? yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah “akal” manusia memiliki akal sedangkan hewan dan tumbuhan tidak, maka dari itu setiap perintah dan larangan begitu juga ajaran yang terdapat di dalam kitab suci suatu agama adalah dalam rangka tuhan berbicara dengan akal manusia, agar manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan apa yang tuhan perintahkan kepada manusia, karena itu sering sekali kita melihat di dalam kitab-kitab suatu agama yang berbicara mengenai akal manusia.

Kitab suci tersebut yang menunjukkan kita bagaimana kita menyikapi ajaran agama tersebut dengan akal kita dan terutama memahami konsep ketuhanan dengan akal kita. Kenapa akal disini begitu penting ? ,karena di dalam semua kitab suci agama adalah menyeru manusia kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran tapi kita tidak akan membenarkan apa yang terkandung dalam suatu kitab suci tersebut adalah benar dan baik sebelum ada sesuatu kebaikan yang mendorong kita untuk menyatakan bahwa kitab suci tersebut adalah baik dan benar. Apa sesuatu yang baik itu yang menyeru kita kepada kitab suci tersebut untuk membenarkan apa yang terkandung dalam kitab suci tersebut adalah baik ? kebaikan itu ialah “akal” dengan akal manusia dapat melihat antara yang baik dan buruk, tetapi manusia tidak dapat melihat baik dan buruk sesuatu sampai ke hakikatnya dan banyak sesuatu yang tidak dapat manusia ketahui baik dan buruknya maka dari itulah turunlah kitab suci yang memberi petunjuk kepada manusia mengenai sesuatu yang haq dan yang bathil yang tidak dapat manusia jangkau baik dan buruknya.

Akal adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia untuk memikirkan mengenai konsep ketuhanan karena semua agama menyeru kepada manusia untuk memikirkan menggunakan akalnya. Semakin berkembangnya zaman maka semakin berkembangnya juga rasionalitas manusia dan juga mempengaruhi perkembangan manusia dalam memikirkan ketuhanan. Turunnya kitab suci adalah untuk membimbing manusia menggunakan akalnya dalam memikirkan sesuatu terutama mengenai ketuhanan.

Mengapa pada zaman dahulu ada kenabian dan ada turunnya kitab suci ? dan mengapa sekarang tidak ada lagi seorang nabi dan tidak turun lagi sebuah kitab suci ? karena pada zaman dahulu manusia belum mengalami perkembangan dalam berpikir dan masih rendahnya rasionalitas manusia sehingga satu-satunya jalan tuhan dalam menunjuki manusia kepada jalan yang benar adalah dengan melalui wahyu dengan mengutus seorang nabi ke daerah tersebut dan karena manusia tidak dapat menjaga ajaran kitab suci tersebut karena masih rendahnya pemikiran manusia seperti seorang anak kecil yang kita beri sebuah buku maka dia tidak akan dapat menjaga buku itu dengan baik. Tapi jika kita memberikan buku itu pada seorang yang dewasa maka dia akan dapat menjaga buku itu dengan baik. Maka dari itu semakin berkembangnya pemikiran manusia maka tidak perlu lagi turunnya wahyu karena daya pikir manusia yang semakin maju dapat menjaga ajaran-ajaran yang diturunkan dari kitab suci. (Muthahari,Murtadha, Kenabian Terakhir, Jakarta,2005 : Lentera)

Dari sini kita dapat mengetahui betapa pentingnya dayapikir manusia yang rasional dalam memikirkan konsep ketuhanan yang diikuti oleh berkembangnya daya pikir manusia sehingga menimbulkan efek berkembangnya juga pemahaman ketuhanan yang selalu berubah-ubah seiring berkembangnya zaman.

ISLAM

Pada bagian awal ini kita akan membahas bagaimana konsep ketuhanan yang dianut oleh agama islam menurut kitab sucinya al-Quran. Apakah agama islam menganut paham monotheysme ? atau menganut paham politheysme ? , karena di dalam al-quran dijelaskan bahwa allah itu “esa” berarti allah dalam islam adalah bersifat tunggal dan tidak jamak bentuk tuhan, tetapi banyak kita temukan nama-nama tuhan yang mempunyai 99 nama yang disebut asmaul husna. Apakah nama-nama ini menandakan bahwa ketuhanan di dalam islam bukan tuhan yang esa ? dan islam memandang ketuhanan dengan paham polytheisme ? tidak! Buka begitu. Jika kita berpikiran seperti itu maka akan bertentangan dengan banyak ayat dalam al-quran yang berfirman disitu bahwa allah itu esa. Dan mustahil ayat-ayat di dalam al-quran saling bertentangan, karena seharusnya setiap ayat dalam al-quran harus mendukung ayat yang lain.dan tidak mungkin bertentangan seperti hl tersebut maka dari itulah nama-nama tuhan itu hanyalah sebuah nama dan sifat tuhan yang satu. Jadi tuhan yang esa tetapi memiliki banyak nama yang menyatakan kebesarannya dan menjelaskan sifatnya, tetapi tetap satu esensi tuhan hanya nama nya yang banyak yang menyatakan kebesaran tuhan.

"Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu dari seorang Rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku". (Qs. al-Anbiyaa [21]: 25)

"Katakanlah bahwa saya diperintahkan hendaklah saya menyembah pada Allah dan saya tidak menyekutukan-Nya. Saya mengajak kepada-Nya dan kepada-Nya tempat kembali", "Katakanlah bahwasanya diwahyukan kepadaku sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu, maka apakah kamu taslim (pada hak)? (Qs. ar-Ra'd [13]: 36)

"Sungguh Kami telah mengutus Nuh pada kaumnya, (Nuh berkata) sesungguhnya aku bagi kamu adalah pengingat yang nyata. Bahwasanya janganlah kamu menyembah kecuali Allah, sesungguhnya aku takut atas kamu azab pada hari pedih" (Qs. al-Huud [11]: 25 dan 26)

Jadi dari sini kita dapat memahami bahwa para nabi sebelum datangnya nabi muhammad saw di dalam islam juga menyeru manusia kepada tauhid atau monotheysme yaitu percaya kepada satu tuhan dan menolah pemahaman politheysme yang percaya pada banyak tuhan. Di dalam al-quran begitu banyak cerita para nabi-nabi terdahulu dan dari cerita-cerita nabi yang tercantum di dalam al-quran kita dapat mengetahui bahwa perjuangan para nabi-nabi terdahulu melawan para penguasa terdahulu adalah semata-mata untuk menyeru manusia kepada tauhid karena masyarakat dahulu mempunyai pemahaman poytheisme yang percaya kepada banyak tuhan, maka diutuslah nabi untuk menyeru manusia kepada jalan yang benar. Contoh seperti nabi ibrahim as dengan raja namrud yang berpaham polytheisme nabi ibrahim selalu mematahkan argumen raja namrud mengenai ketuhanan dan nabi ibrahim as selalu menyeru umatnya untuk menembah tuhan yang satu yaitu allah yang esa.

Penjelasan al-quran inilah yang membuktikan pada kita bahwa di dalam agama islam bukanlah agama yang menganut paham polytheisme tetapi konsep ketuhanan yang dianut oleh agama islam yang terdapat dalam al-quran ialah murni menganut paham monotheisme karena islam sangat menjunjung tinggi prinsip tauhid yaitu percaya dan beriman pada tuhan yang esa, karena itulah yang dibawa oleh nabi muhammad saw dalam menyebarkan agama islam yaitu menyeru kepada manusia untuk kembali kepada tauhid, maka dari itu jika seseorang ingin masuk ke dalam agama islam mempunyai syarat-syarat pokok yaitu dengan mengucapkan syahadat yaitu mengakui bahwa tiada tuhan selain allah dan muhammad adalah rasul allah. Syahadat adalah pokok dari agama islam karena pokok agama islam dan seluruh isi al-quran adalah menyeru manusia kepada tauhid.

KRISTEN

Selama ini kebanyakan manusia beranggapan bahwa agama kristen adalah agama yang menganut paham trinitas yaitu percaya pada 3 tuhan. Apakah agama kristen yang sebenarnya menganut paham trinitas ? ataukah monotheisme ?. bukan hanya islam dan yahudi saja yang menolak rumusan trinitas kristiani tradisional. Gereja awalpun akhirnya terpecah akibat konsep sifat tuhan dalam pandangan agama kristen. Maka sebenarnya banyak pendukung bahwa yesus adalah manusia biasa dan hanya seorang nabi dan utusan tuhan dan bukanlah sebagai tuhan di dalam kristiani awal.

Bukan hanya para adopsionis kristiani awal yang menolak konsep trinitarian. Kristiani awal juga dicirikan oleh kelompok-kelompok yang dikenal sebagai subordinasionis. Bahkan, seseorang bisa menjadi subordinasionis tanpa perlu menjadi adopsionis. Maka, origen dan aleksandria (184-254) terkadang disebut bapa arianisme, karena ia beranggapan bahwa yesus adalah subordinat dihadapan bapa, dan bahwa roh kudus adalah subordinat dihadapan bapa maupun putra. (Dirk F,Jerald, Abrahamic Faiths, Jakarta, 2006 : Serambi)

Jadi mungkin kita dapat mengetahui sekarang bahwa pemahaman agama kristen mengenai konsep tuhan telah jelas, bahwa doktrin trinitas berkembang secara perlahan sepanjang beberapa abad dan bukanlah ajaran sebenarnya, karena pada awalnya kaum kristiani awal berjuang untuk memperjuangkan pemahaman kristen yang monotheistik yang percaya satu tuhan dan yesus dan roh kudus hanyalah subordinat dari ketuhanan dan memandang yesus tidak lebih dari seorang manusia biasa yang diutus sebagai nabi yang membawa kitab injil untuk bani israil. Dan pemahaman seperti inilah yang merupakan ajaran agama kristen sebenarnya yang merupakan ajaran agama kristen pada awalnya yang dipertahankan oleh kristiani awal.

Demikianlah penelitian mengenai kristen awal yang tidak sepakat mengenai konsep trinitas ketika menyinggung sifat-sifat tuhan. Mereka yang menyeru keesaan tuhan melalui pandangan subordinasionis atau adopsionis pada umumnya sejalan dengan pandangan islam tauhid, yaitu keesaan tuhan.

HINDU

Agama hindu adalah agama yang tua jauh lebih tua dari agama yahudi yang merupakan agama samawi tertua. Dan kebanyakan manusia sekarang memandang konsep ketuhanan agama hindu adalah agama yang memahami ketuhanan secara polytheisme atau banyak tuhan. Karena agama hindu mempunyai banyak nama dewa di dalam kitab sucinya. Apakah agama hindu mempunyai pemahaman dalam konsep tuhan polytheisme ? atau menganut paham monotheisme ?

Kalo kita melihat kitab suci umat hindu terlintas di dalam benak kita bahwa agama hindu menganut paham polytheisme karena terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda tuhan memiliki empat nama sehingga ini menandakan buat kita bahwa agama hindu adalah agama polytheisme tetapi jika kita beranggapan seperti itu maka kita akan salah, karena agama hindu seperti islam jika didalam Weda terdapat 4 nama tuhan bukan menandakan bahwa ada 4 tuhan dan banyak tuhan begitu juga dengan islam bahwa tuhan yang maha esa memiliki 99 nama dan hindupun juga begitu dalam konsep pemahamannya mengenai tuhan. Bahkan agama hindu mempunyai banyak nama tuhan yang lebih dari islam. Dan bukan berarti mempunyai banyak nama tuhan menyatakan bahwa tuhan dalam agama hindu adalah banyak tuhan. Tetapi agama hindu pada dasarnya adalah agama yang menganut paham monotheisme yang percaya pada 1 tuhan.

Mahatma Gandhi memberikan kita pedoman yang baik sekali:"Nama-nama itu adalah sebutan deskriptif dari Tuhan yang Esa. Para pujangga keagamaan telah memberi persemayaman lokal maupun nama pada atribut Tuhan yang tidak terhitung jumlahnya. Dan hal ini tidak ada salahnya karena ia tidak disalahartikan oleh pemujanya maupun pihak lain. Bila manusia memuja Tuhan dia kan membayangkannya menurut kecenderungannya sendiri. Nahkan bila kita berdoa kepada Tuhan yang sama sekali tanpa bentuk maupun atribut sesungguhnya kita sudah memberikannya sifat-sifat. (Oka GD, Bagus, Mahatma Gandhi, Bali, 1982 : Yayasan Bali Canti Cena)

Jadi kita dapat mengetahui bahwa dalam agama hindu juga mengandung ajaran yang menyeru manusia kepada tuhan yang maha esa. Jadi yang selama ini kita ketahui mengenai agama hindu yang kita anggap percaya pada banyak tuhan atau polytheisme ternyata adalah agama yang mempunyai konsep ketuhanan monotheisme. Bukti ini dapat kita lihat banyak ungkapan di dalam kitab suci umat hindu yaitu weda yang menyatakan bahwa tuhan itu adalah esa maka dari itu nama-nama tuhan yang beraneka macam di dalam weda tersebut adalah nama-nama tuhan menunjuk pada tuhan yang satu. Bukan berarti menunjuk pada banyak tuhan.

Menurut saya ajaran-ajaran agama islam,kristen dan hindu yang telah kita bahas tadi adalah ajaran yang sama-sama menyeru manusia pada tuhan yang esa dan memiliki pemahaman ketuhanan monotheisme. Menurut pemikiran saya bahwa ajaran yang dibawa oleh ketiga agama tersebut mempunyai dasar yang sama yaitu demi menunjuki manusia kepada tauhid atau keesaan tuhan yang sebelumnya umat manusia percaya kepada banyak tuhan.

Paham monotheisme bukanlah berarti paham yang hanya dimiliki oleh suatu agama saja. Pada dasarnya ketiga agama ini mempunyai tujuan dan pandangan yang sama mengenai ketuhanan. Hanya saja yang membedakan ketiga agama ini adalah hanya bentuk (form) dari monotheisme masing-masing. Jadi walaupun sama-sama mempunyai konsep pemahaman mengenai tuhan secara monotheisme tetapi ketiga agama tersebut mempunyai cara masing-masing mengenai pemahaman monotheismenya masing-masing. Jadi setiap agama mempunyai caranya masing-masing dalam memandang ketuhanan walaupun pada dasarnya sama tetapi hanya saja caranya yang berbeda yang membedakan agama tersebut. Monotheisme pada dasarnya adalah percaya kepada tuhan yang esa dan dalam menuju manusia kepada kepercayaan ketuhanan yang esa setiap agama mempunyai tata cara nya masing-masing dalam menuju tujuan tersebut.

Setiap agama mempunyai kitab suci dan mempunyai ajarannya masing-masing maka setiap agama mempunyai tata cara yang berbeda dengan agama yang lain. Dan setiap umat manusia selalu mengharapkan bahwa dirinya mempunyai hubungan yang khusus dengan tuhan, tetapi dalam manusia menuju kepada hubungan antara manusia dengan tuhannya setiap manusia selalu memandang agama sebagai kefanatikan dan memandang bahwa agamanyalah yang paling benar dan menyalahkan agama yang lain yang mempunyai tata cara dan memiliki ajaran yang berbeda dari yang dia anut. Sikap seperti inilah yang menghancurkan persatuan umat manusia.

Ketiga agama tersebut jelas sama-sama menganut paham ketuhanan monotheisme atau percaya dengan satu tuhan atau tuhan yang esa. Dan dengan kesamaan ini kita dapat mengetahui bahwa ajaran-ajaran yang terdapat di dalam ketiga agama ini adalah sama yaitu menyeru kepada ketuhanan yang satu atau kepada ketuhanan yang maha esa dan tidak menyetujui tentang banyak tuhan, maka dari itu bahwa semua agama yang menganut paham monotheisme adalah agama yang memang ajaran pada dasarnya dan belom tercampuri oleh sesuatu doktrin dari pemahaman lain.

Jadi agama yang sebelumnya kita anggap sebagai agama polytheisme ternyata agama tersebut mengandung ajaran monotheisme yang tidak kita ketahui konsep monotheisme ajaran agama tersebut. Karena setiap agama memiliki kitab suci dan ajaran-ajaran yang berbeda-beda. Mungkin kita harus melihat substansi ajaran agama tersebut jangan hanya melihat kulitnya saja contoh seperti pada agama hindu dengan melihat ada 4 nama tuhan maka langsung kita mengambil kesimpulan bahwa ajaran agama hindu dan konsep pemahaman tentang ketuhanan agama hindu adalah polytheisme tetapi setelah kita mengethuai substansi dari ajaran tersebut kita baru dapat mengetahui bahwa ajaran yang terdapat pada agama tersebut adalah ajaran yang menyeru manusia pada keesaan tuhan dan merupakan konsep pemahaman monotheisme yang dia anut yang dengan tata caranya sendiri dalam mengintrepretasi ajaran monotheisme tersebut.

PENUTUP

Agama islam,kristen dan hindu adalah ketiga agama yang mengandung paham monotheisme dengan beragam cara yang berbeda-beda dengan memahami arti dari monotheisme masing-masing. Dengan berbagai bentuk setiap agama tersebut memiliki kitab suci dan ajaran-ajaran agama masing-masing. Maka sekarang kita mengetahui jalan menuju kepada tuhan yang maha esa dan tuhan yang satu tidak hanya mempunyai satu jalan saja tetapi ketiga agama-agama ini mempunyai jalannya masing-masing untuk mencapai kepada tujuan tersebut. Caranya berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu menyeru manusia kepada tuhan yang satu yaitu tuhan yang maha esa dan bukan menyembah kepada banyak tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Mukti Ali, guru besar ilmu perbandingan agama pada Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga

Muthahari,Murtadha, Kenabian Terakhir, Jakarta,2005 : Lentera

Qs. al-Anbiyaa [21]: 25

Qs. ar-Ra'd [13]: 36

Qs. al-Huud [11]: 25 dan 26

Dirk F,Jerald, Abrahamic Faiths, Jakarta, 2006 : Serambi

Oka GD, Bagus, Mahatma Gandhi, Bali, 1982 : Yayasan Bali Canti Cena

Senin, 10 Januari 2011

Pendekatan Atntropologi dan sosiologi agama dalam Sekularisasi


PENDAHULUAN

Berbagai macam-macam dan berbagai teori mengenai pendekatan agama untuk mengkaji suatu agama. Kita akan mengkaji melalui pendekatan antropologi agama dan pendekatan sosiologi agama dalam penerapannya untuk mengkaji mengenai sekularisasi. Dan bagaimana sekularisasi dapat terjadi mengikuti perkembangan zaman. Apa sajakah yang menjadi fokus kajian pendekatan antropologi dan pendekatan sosiologi agama ? dan apa perbedaan dari kedua pendekatan tersebut ?

Apa yang membedakan antara pendekatan secara antropologi agama atau dengan pendekatan sosiologi agama dan manakah diantara kedua pendekatan itu yang lebih efektif untuk mengkaji tentang sekularisasi ? dan apakah yang dapat kita ketahui dari segala pendekatan tersebut ? maka dari itu disini kita melakukan kajian tentang bagaimana pendekatan agama secara antopologi dan sosiologi diterapkan dalam meneliti mengenai sekularisasi

ISI

1. PENDEKATAN ANTROPOLOGI AGAMA

Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia. Pada masa yang lalu antropologi hanya mempelajari tentang manusia saja, tetapi sekarang antrologi juga mempelajari tentang agama yang manusia anut, karena agama juga mempunyai hubungan yang penting dengan manusia itu sendiri maka dari itu disini antropologi tertarik untuk mempelajari agama. Kajian tentang agama di antropologi mempelajari tentang agama apakah yang dianut manusia zaman dahulu? Apakah itu sebuah sihir? Apakah sama agama yang zaman dahulu dengan yang zaman sekarang? Ini semua dikaji didalam antropologi mempelajari agama. Antropologi juga mempelajari kebudayaan karena tidak ada kebudayaan tanpa manusia, maka disini ada keterkaitan antara agama dan budaya. Apakah agama itu timbul dari adanya budaya suatu masyarakat atau agam yang menimbulkan suatu kebudayaan yang baru bagi manusia, karena setiap manusia pasti berbudaya.

Antropologi tidak membahas benarnya suatu agama, tetapi membahas efek dari agama itu untuk manusia dan juga efek dari kebudayaan itu terhadap manusia dan saling keterkaitan diantara dua unsur itu yaitu agama dan kebudayaan. “pada dasarnya....tidak ada agama yang salah. Semua agama adala benar menurut metode masing-masing. Semua memenuhi kondisi-kondisi tertentu dari eksistensi manusia, meskipun dengan cara yang berbeda-beda” (Emil, Durkheim. 1995/1912. The Elementary Forms of Religious Life,tr.Karen E. Field, New York, The Free Press. Hal 2) jadi menurut Durkheim semua agama yang ada adalah benar karena semua agama memenuhi kondisi-kondisi tertentu daari eksistensi manusia, meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Penjelasan Durkheim tadi telah menyatakan bahwa dengan fungsi agama yang seperti itu maka semua agama tidak ada yang salah dan semua agama adalah benar. Durkheim selalu meneliti asal-usul agama karena dengan meneliti asal-usul agama maka kita dapat mengerti cara berpikir manusia yang menganut agama itu pada zamannya, sehingga dengan melakukan kajian lewat agama kita dapat mengetahui pola berpikir manusia pada zaman dahulu, maka dari itulah antropologi tertarik untuk mengkaji agama karena pasti ada keterkaitaan antara agama dengan manusia.

Durkheim juga berpendapat “ Apakah perbedaan mendasar antara umat kristen yang merayakan saat-saat penting dari kehidupan yesus kristus, yahudi yang merayakan eksodus dari mesir atau penyebaran sepuluh perintah tuhan, dan suatu pertemuan masyarakat umum yang memperingati kedatangan piagam moral dan peristiwa-peristiwa besar lain dalam kehidupan nasional? (Emil, Durkheim. 1995/1912. The Elementary Forms of Religious Life,tr.Karen E. Field, New York, The Free Press. Hal 429). Disini Durkheim menyamakan antara ritual yang dilakukan oleh agama nasrani yang mrayakan saat-saat dari ke hidupan yesus kristus dan orang yahudi yang merayakan eksodus dari mesir atau penyebaran sepuluh perintah tuhan sama dengan pertemuan masyarakat umum yang memperingati kedatangan piagam moral dan peristiwa-peristiwa besar lain dalam kehidupan nasional. Menurut saya disini Durkheim menyamaratakan kejadian tersebut mempunya hakikat yang sama,tetapi menurut saya berbeda tidak bisa kita samakan ritus/ritual di dalam suatu agama dengan kegiatan manusia yang seperti itu, karena di dalam agama adalah suatu umat yang mempunyai keimanan dan motivasi yang sama dan agama itulah yang mengikat mereka dengan wahyu dan dengan kitab sehingga mempunyai tujuan yang sama pula, sedangkan di kegiatan manusia tidak ada dasar keimanan yang sama dan tidak ada tujuan dan motivasi yang sama yang ada hanya persamaan sebagai warga negara sehingga mempunyai semangat nasional yang sama tetapi di balik itu semua terdapat perbedaan tujuan itulah perbedaan dengan agama. Agama mengikat fisik dan batin nya walaupun secara fisik dia berbeda kebangsaan,warna kulit,ras tetapi mereka tetep satu tujuan dan satu keimanan sehingga agama yang mengikat mereka semua.

Jadi pendekatan terhadap agama melalui antropologi lebih terfokus pada simbol-simbol dan unsur-unsur di dalam agama tersebut, seperti kitab,haji,puasa,golongan agama,pemuka agama karena itu semua mempengaruhi manusia, maka dari itu antropologi mengkaji nya.

2. PENDEKATAN SOSIOLOGI AGAMA

Sosiologi sangat cocok untuk menjadi kajian agama/pendekatan terhadap agama, karena sosiologi fokus pada hubungan antara agama dan masyarakat dan keterkaitan diantara keduanya, karena pasti agama itu membawa pengaruh terhadap masyarakat itu sendiri atau masyarakat itu sendiri yang mempengaruhi suatu agama ini merupakan kajian yang menarik untuk kita pelajari.

Kategori-kategori sosiologis, meliputi :

1. Stratifikasi sosial, seperti kelas dan etnisitas

2. Kategori biososial, seperti seks,gender,perkawinan,keluarga,masa kanak-kanak, dan usia

3. Pola organisasi sosial meliputi politik,produksi ekonomis,sistem-sistem pertukaran, dan birokrasi

4. Proses sosial, seperti formasi batas, relasi intergroup, interaksi personal, penyimpangan, dan globalisasi (Giddens,Anthony, sociology, cambridge : polity press,1989)

Jadi kita dapat mengetahui dari kategori-kategori diatas lah fokus dari sosiologi terhadap pendekatan agama, karena agama juga mempengaruhi dari kategori-kategori di atas ataukah kategori-kategori di atas yang justru mempengaruhi suatu agama.

Contoh penelitian melalui pendekatan sosiologi perang antara orang islam dan nasrani di ambon terkadang terjadi konflik padahal mereka adalah satu masyarakat yang nasib dan hidup bersama dengan damai dahulu lalu timbul konflik diantara mereka karena dipicu perbedaan agama. jadi yang dahulu nya damai dan dapat hidup harmonis walaupun berbeda agama sekarang sering kali timbul konflik di ambon walaupun akhir-akhir ini sudah jarang kita denger terjadi lagi konflik lagi seperti dulu.

Kelemahan dari pendekatan sosiologi terhadap agama menurut saya adalah suatu masyarakat mempunyai kebiasaan dan kebudayaan tertentu sehingga kehidupan di dalam masyarakat itu dalam beragama berbeda, dan interaksi antara masyarakat pun berbeda-beda terhadap agama itu sendiri. Sosiologi hanya terfokus terhadap efek dari interaksi antara agama dan masyarakat sedangkan agama tidak hanya dapat kita kaji seperti itu kita juga harus mengkaji unsur-unsur di dalam agama tersebut yang dapat membuat keterkaitan antara masyarakat dengan agama dan itu juga berarti agama dan kehidupan dalam bermasyarakat adalah satu-kesatuan bukan sesuatu yang terpisah atau yang sering disebut sekularisasi.

3. PENGERTIAN SEKULARISASI

“Sekularisasi berasal dari bahasa Latin: saeculum = waktu, abad. Istilah yang dipakai suatu proses, yang beralur, sehingga masyarakat golongan negara menjadi makin duniawi, semakin jauh dari ajaran agama. Di Eropa hal ini terlihat di masa apa yang disebut aufklarung. Di negeri Islam terlihat contoh yang kongkrit di Turki, dimana Kemal Attaturk setelah dia berkuasa dia melakukan sekularisasi, yaitu melepaskan ajaran atau kebiasaan agama Islam di dalam semua kegiatan pemerintah” (Dr. Mochtar Effendy, S.E., Ensiklopedi Agama dan Filsafat,) (Diterbitkan oleh Penerbit Universitas Sriwijaya dan diedarkan khusus oleh PT. Widyadara, cet. I, 2001), 5: 264.)

Sekularisasi ialah terpisahkan nya antara agama dan kehidupan duniawi karena agama hanya berhak mengatur hubungan kita dengan tuhan sedangkan tidak pantas jika kita mencampuradukan agama dengan kehidupan kita dan pemerintahan suatu negara atau politik. Agama disini hanyalah sebagai pedoman di luar itu semua maka dari itu harus dipisahkan, sehingga di dalam badan pemerintahan tidak ada lagi ajaran atau kebiasaan agama di dalam badan pemerintah.

“Pada awal abad kesembilan belas, ateisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat autonomi dan independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietsche, dan Sigmund Frued menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat buat Tuhan. Bahkan pada akhir abad itu, sejumlah besar orang mulai merasakan bahwa sekiranya Tuhan belum mati, maka adalah tugas manusia yang rasional dan teremansipasi untuk membunuhnya. Gagasan tentang Tuhan yang telah ditempa selama berabad-abad di kalangan Kristen Barat kini terasa tidak lagi memadai, dan Zaman Akal tampaknya telah menang atas abad-abad penuh takhyul dan fanatisme.” (Karen Amsrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun, (Bandung: Mizan, [terj.] Zaimul Am, cet.VII, 2004), hlm. 446)

Menurutnya kemajuan sains dan teknologi lama-kelamaan akan membuat tuhan mati dalam masyarakat dan masyarakat tidak dapat lagi merasakan peranan dari tuhan, karena sudah terisi oleh sains dan teknologi yang maju tadi. Nasrani memang menceritakan bahwa nabi Isa as adalah seorang pemimpin spiritual bukan sebagai pemimpin negara karena pada zaman nya tingkat keimanan/spiritual bani israil rendah maka turun lah nabi Isa as untuk membimbing nya, tetapi di dalam agama Islam nabi Muhammad saw bukan hanya sebagai pemimpin spiritual umat islam saja, tetapi juga sebagai pemimpin pemerintahan, sehingga itulah yang membuat arab menjadi maju dan disegani oleh negara lain nya. Nabi muhammad saw pun sukses dengan menyatukan tanpa membuat terpisah kedua unsur ini yaitu agama dan pemerintahan, karena nabi Muhammad saw menyatukan keduanya secara bersamaan sehingga tidak ada sesuatu yang terpisah diantara kedua nya.

Pemerintahan yang tidak terpisah dari ritual dan kebiasaan-kebiasaan dalam agama adalah sangat mungkin dijalankan karena nabi Muhammad saw pun membuktikan nya dengan keberhasilan yang besar dengan membuat kedua hal tersebut menjadi satu kesatuan tanpa membuat agama dan pemerintahan terpisah.

4. PENDEKATAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI DENGAN SEKULARISASI

Penjelasan tentang pendekatan antropologi tadi telah jelas antropologi hanya memfokuskan pada unsur-unsur pembentuk di dalam suatu agama seperti kitab,haji,sholat,pemuka agama,masjid dan golongan suatu agama yang terpengaruh kebudayaan, sedangkan pendekatan sosiologi adalah lebih memfokuskan pada fungsi agama bagi masyarakat/manusia jadi berbeda dengan antropologi yang mempelajari unsur agama itu langsung.

Tadi sudah dijelaskan tentang pendekatan antropologi dan pendekatan sosiologi agama dan menurut saya pendekatan sosiologi agama lebih tepat dibandingkan dengan pendekatan antropologi, karena pendekatan antropologi hanya mempelajari unsur-unsur pembentuk agama dan pengaruh kebudayaan terhadap agama,sedangkan sosiologi mempelajari fungsi dari agama itu terhadap manusia/ masyarakat sehinnga kita semua dapat mengetahui apa saja fungsi agama bagi diri kita sendiri. Pendekatan sosiologi jelas lebih luas dan lebih tepat dibandingkan antropologi, karena jika kita membahas agama secara sosial atau masyarakat maka kita akan mengetahui fungsi-fungsi hakikat dari agama itu apa. Agama tidak hanya membentuk satu tipe bagian atau tidak hanya membentuk spiritualitas manusia tapi agama juga satu kesatuan dengan kehidupan bermasyarakat sehingga tidak ada jarak pemisahan antara agama dengan sesuatu yang bersifat duniawi seperti pemerintahan, maka menurut saya pendekatana agama secara sosiologi dapat mengetahui lebih jelas terjadinya sekularisasi, karena sekularisasi adalah memisahkan antara agama dan pemerintahan sedangkan pendekatan agama dengan sosiologi adalah mengkaji fungsi agama dengan interaksi nya dengan masyarakat.

Jika kita melakukan pendekatan antropologi kita sulit mengamati terjadinya sekularisasi dibandingkan dengan pendekatan sosiologi karena antropologi tidak membahas fungsi dari agama itu sendiri, tetapi dia membahas tentang isi dan unsur-unsur pembentuk dalam agama itu yang berkaitan dengan kebudayaan dan manusia dan kajian kita terfokus hanya pada agama itu sendiri tanpa fungsi dari adanya agama itu sendiri bagi masyarakat, sehingga ini akan menimbulkan sebuah pemisahan tersendiri antara agama dan kehidupan masyarakat yaitu badan pemerintahan, sehingga tidak ada kebiasaan-kebiasaan agama dan ritual agama di dalam pemerintahan karena kedua nya sesuatu yang terpisah.

Masyarakat merupakan hal yang penting yang berhubungan dengan agama, karena fungsi dari agama itu sendiri akan mempengaruhi ke masyarakat sehingga kita dapat mengethui dampak sosial dan pola pemikiran masyarakat itu sendiri dari pendekatan sosiologi agama. Pendekatan sosiologi agama menurut saya jauh lebih tepat dibandingkan antropologi agama karena hal yang telah saya jelaskan diatas, fungsi terhadap masyarakat lebih nyata dibandingkan dengan penelitian/kajian lewat pendekatan antropologi.

Pendekatan sosiologi terhadap agama kita juga menemukan bahwa peranan agama terhadap kehidupan sosial juga mengalami penurunan, sehingga semakin berkurang nya seseorang untuk mengikuti acara-acara keagamaan dan mendatangi tempat-tempat peribadatan dibandingkan tempat-tempat yang ramai yang sering dikunjungi seperti mall dan bar, sehingga kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan agama pada zaman sekarang apakah masih sama seperti agama yang dahulu? Ataukah agama yang sekarang sudah tidak lagi menyatu dengan kehidupan kita di dalam masyarakat dan memisahkan kedua nya menjadi hal yang berbeda dan harus dipisahkan.

“fenomena-fenomena itu dapat diamati di kebanyakan negara eropa. Di inggris, tingkat kehadiran di gereja secara reguler, mengalami penurunan dari 50% pada tahun 1815, menjadi 9% pada tahun 1997. Pada tahun 1997, kira-kira hanya seperempat anak yang diajukan dalam baptisme anak di gereja inggris , dibandingkan dengan sebelum perang dunia II sebanyak 70%” (Bierley,Peter, Christian England : What the English Chrurch Census Reveals. London : MARC Europe, 1991)

Ini adalah data yang membuktikan bahwa agama sudah benar-benar terpisah oleh kehidupan masyarakat sehingga orang-orang sudah tidak lagi melakukan ritual-ritual agama lagi seperti diatas. Semua ritual-ritual agama dan rumah peribadatan mengalami penurunan yang drastis karena hilang nya peranan agama di dalam kehidupan masyarakat yang sosial. Agama yang dahulu menyatu dengan kehidupan masyarakat sekarang telah terpisah dan tidak menyatu lagi disebabkan hilang nya peranan agama dalam kehidupan.

Di dalam antropologi kita dapat melihat hilang nya unsur-unsur pembentuk agama dengan manusia. karena manusia telah meniggalkan kitab-kitab agama nya dan meninggalkan ritual-ritual agama, sehingga pembelajaran terhadap kitab-kitab agama semakin sedikit dan semakin lama semakin mengalami penurunan dan ini akan menyebabkan lama kelamaan agama akan hilang dari kehidupan manusia sehingga membentuk sekularisasi yang memisahkan agama dengan kehidupan. Unsur-unsur agama pun telah terlupakan dan semakin lama semakin hilang dari kehidupan manusia.

“Teoritisi-teoritisi utama sekularisasi – Bryan Wilson, Peter Berger, David Martin, dan Steve Bruce – melihat semua ini sebagai konsekuensi modernisasi” (Bruce,Steve, Religion and Modernization : Sociologist and Historians Debate the Secularization Thesis. Oxford : Clarendon Press, 1992)

Memang modernisasi membuat agama menjadi tergantikan dengan sains dan teknologi karena selama ini manusia tidak dapat meneliti sebab-sebab suatu fenomena alam dan fenomena-fenomena kehidupan lainnya tetapi karena seemakin majunya teknologi dan sains manusia dapat meengetahui sebab-sebab dari itu semua dan karena manusia telah mengetahui sebab-sebab dari semua itu sehingga masyarakat berpikir bahwa tidak ada peran tuhan dari itu semua tetapi ini lah sebab sebenarnya dan fungsi ketuhanan dan agama dalam kehidupan mulai menghilang dan semakin lama semakin mengalami penurunan yang drastis karena modernisasi tersebut dan kemajuan teknologi dan sains yang telah menghilangkan ketuhanan dan agama dalam kehidupan masyarakat, jadi masyarakat menganggap bahwa agama hanyalah sebagai ritual saja sebagai hanya sekedar penenangan jiwa terpisah dengan kehidupan bermasyarakat.

“Beberapa sosiolog menyatakan bahwa tesis sekularisasi disandarkan pada asumsi tentang era keemasan aktivitas keagamaan di masa lampau yang merupakan suatu ilusi historis. Di era sebelumnya, konformitas religious dikuatkan oleh norma-norma sosial dan bahkan kekuatan hukum, sementara ateisme dan penyimpangan keagamaan tumbuh subur dalam garis tepi kehidupan sosial atau dalam kehidupan pinggiran di luar orang-orang konformis. Mereka juga menyatakan, meskipun jumlah orang yang pergi ke gereja secara teratur mengalami penurunan di eropa modern , namun mereka yang tetap pergi ke gereja lebih commited, seperti dibuktikan dengan dukungan keuangan dan munculnya kekhasan keyakinan dan nilai diantara orang-orang yang pergi ke gereja dan yang tidak pergi ke gereja.” (Lyon,David, The Steeple’s Shadow : Myths and Realities of Secularization. London : SPCK, 1987)

Jadi argumennya adalah kehadiran dan minat besar pada masyarakat dahulu terhadap agama adalah hanya pada keemasan yang merupakan suatu ilusi historis, karena konformitas religious dikuatkan oleh norma-norma sosial bahkan kekuatan hukum. Ateisme semakin tumbuh subur di zaman modernisasi ini, karena orang tidak lagi percaya dengan tuhan dan selalu berpandangan materialisme yang memandang sesuatu berdasarkan materi yang dapat di indera maka akan mengingkari ketuhanan dan agama dan yang akan timbul adalah ateisme semakin subur karena berawal dari sekularisasi maka dari itu sekularisasi adalah cikal bakal dari ateisme.

Di dalam masyarakat modern susah untuk kita mempertahankan agama yang dianggap sebagai takhayul karena jika kita memahami agama secara hanya sekedar mengimani agama tanpa mengetahui alasan rasional yang menyebabkan nya maka yang akan timbul sifat takhayul tetapi jika kita mengetahui sebab segala sesuatu tanpa mengimani bahwa unsur-unsur dari sesuatu itu berasal dari tuhan yang menciptakan maka akan timbul ketidakpercayaan terhadap keberadaan tuhan karena kita telah mengetahui segala sebab terjadinya fenomena-fenomena alam dan kehidupan kita. Maka kita akan mengira selama ini orang yang beragama hanya percaya dan mengimani sesuatu yang sekedar takhayul padahal sebab nya adalah bukan dari tuhan tetapi karena sebab-sebab tertentu, maka dari itu lebih baik jika kita mempelajari dan memahami apa sebab dari semua fenomena-fenomena itu dan beriman bahwa yang menciptakan unsur-unsur dari segala sebab itu adalah tuhan.

Awal dari ateisme adalah pemisahan antara agama dan kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan. Sehingga lama kelamaan agama akan hilang perannya di dalam kehidupan manusia, dan manusia hanya menjadikan agama sebagai pencucian batin saja terpisah dari kehidupan sosial dan sudah tentu tidak bisa diterapkan di dalam badan pemerintahan hal seperti ini lah yang disebut sekularisasi yang merupakan cikal bakal dari timbulnya paham ateisme dan materialisme

Jika itu terus terjadi mengikuti perkembangan zaman maka yang akan terjadi adalah penghapusan agama dalam kehidupan manusia dan tidak ada lagi manusia yang percaya dengan adanya tuhan dan secara otomatis tidak ada lagi manusia dan masyarakat yang beragam dan ini sudah di ramalkan oleh penganut paham ateis bahwa perkembangan sain dan teknologi yang semakin maju dan masa modernisasi akan menggantikan fungsi agama bahkan menghilangkan fungsi agama dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendekatan antropologi lebih memfokuskan pada unsur-unsur pembentuk suatu agama sehingga kita dapat mengetahu terjadinya sekularisasi pada agama dengan sikap manusia terhadap unsur-unsur tersebut dan menurut saya pendekatan melalui antropologi kurang tepat karena hanya mengkaji dari unsur – unsur pembentuk agama itu saja tanpa melihat akibat yang disebabkan lainnya. Maka penelitian dengan melakukan pendekatan antropologi tidak dapat akurat meneliti dan mengkaji.

Sedangkan pendekatan sosiologi agama memfokuskan penelitian atau kajian pada pengaruh agama terhadap interaksi terhadap manusia atau masyarakat. Maka dari itu pendekatan sosiologi lebih tepat untuk mengkaji terjadinya sekularisasi terhadap agama karena sosiologi mengkaji fungsi dari agama itu sendiri terhadap masyarakat. Dan akan jelas terlihat apakah agama dan kehidupan bermasyarakat terpisah ataukah merupakan satu kesatuan yang tidak ada pemisahan antara agama dan kehidupan masyarakat atau pemerintahan.

Jadi pendekatan antropologi agama dengan pendekatan sosiologi agama mempunyai perbedaan fungsi dan mempunyai kelebihan masing-masing, tetapi dalam membahas tentang terjadinya sekularisasi saya kira pendekatan sosiologi lebih tepat menjadi kajian yang utama karena membahas langsung hubungan antara agama dan masyarakat. Sehingga kita dapat mengkaji langsung dampak sosial agama terhadap masyarakat, sehingga kita dapat mengetahui apakah peranan-peranan agama dalam kehidupan kita masih berperan aktif ataukah fungsi-fungsi agama itu telah hilang lambat laun dalam kehidupan kita sehingga ini mebuat keterpisahan antara agama dan pemerintahan atau kehidupan duniawi kita. Bukan satu kesatuan dengan agama yang seharusnya diantara keduanya tidak ada keterpisahan dan merupakan satu kesatuan. Karena agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan duniai kita karena agama mempunyai fungsi-fungsi dan hakikat dari agama adalah diterapkannya ajaran-ajaran yang ada dalam agama untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehingga jika kita pisahkan diantara keduanya maka akan hilanglah fungsi agama terhadap kehidupan masyarakat dan akan hilang pula peranan agama untuk kehidupan masyarakat kita dan pemerintahan. Seperti nabi Muhammad saw menyebarkan agama islam sebagai pemimpin agama dan juga sebagai pemimpin dalam pemerintahan dan menyatukan agama dalam suatu pemerintahan tanpa memisahkan nya. Maka bukanlah hal yang mustahil untuk menjalankan keduanya dalam satu kesatuan karena nabi Muhammad saw telah membuktikan dengan keberhasilan dan kemenangan islam.

KESIMPULAN

Setelah kita melakukan kajian maka kita telah mengtahui bagaimana pendekatan antropologi agama yang memfokuskan kajiannya pada unsur-unsur pembentuk agama dengan pendekatan sosiologi agama yang memfokuskan kajiannya pada fungsi dari agama terhadap masyarakat dan peran-peran agama itu sendiri dengan masyarakat.

Dan kita juga mengetahui melalui kedua pendekatan itu untuk diterapkan dalam mengkaji tentang suatu masalah yaitu tentang sekularisasi dan menurut saya pendekatan yang paling tepat untuk mengkaji tentang sekularisasi adalah melalui pendekatan secara sosiologi dibandingkan dengan pendekatan antrpologi yang hanya terfokus pada unsur agama tersebut

REFERENSI

1. Connolly,Peter , Aneka Pendekatan Studi Agama , LKIS , 2002

2. Emil, Durkheim. 1995/1912. The Elementary Forms of Religious Life,tr.Karen E. Field, New York, The Free Press. Hal 2

3. Emil, Durkheim. 1995/1912. The Elementary Forms of Religious Life,tr.Karen E. Field, New York, The Free Press. Hal 429

4. Giddens,Anthony, sociology, cambridge : polity press,1989

5. Dr. Mochtar Effendy, S.E., Ensiklopedi Agama dan Filsafat,) (Diterbitkan oleh Penerbit Universitas Sriwijaya dan diedarkan khusus oleh PT. Widyadara, cet. I, 2001), 5: 264.

6. Karen Amsrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun, (Bandung: Mizan, [terj.] Zaimul Am, cet.VII, 2004), hlm. 446

7. Bierley,Peter, Christian England : What the English Chrurch Census Reveals. London : MARC Europe, 1991

8. Bruce,Steve, Religion and Modernization : Sociologist and Historians Debate the Secularization Thesis. Oxford : Clarendon Press, 1992

9. Lyon,David, The Steeple’s Shadow : Myths and Realities of Secularization. London : SPCK, 1987

Five-Star Ratings Control

 

Levi Yamani Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger